Ketakutan Mengubah Manusia menjadi Iblis, dan Politik Propaganda Ketakutan Membutakan Akal Sehat
Sudut Pandang

Ketakutan Mengubah Manusia menjadi Iblis, dan Politik Propaganda Ketakutan Membutakan Akal Sehat

Ketakutan-ketakutan yang terpatri didalam pikiran menimbulkan efek yang luar biasa. Ketakutan akan menimbulkan tidak tenangnya menjalani hidup, walaupun hidup itu serba melimpah ruah segala kesenangan dan kenikmatan tetapi hanya dapat dinikmati saat proses tersebut saja.

Ketakutan yang menghujam begitu dalam akan membuat diri seperti merasa terdesak, dan akan melakukan apa saja demi terhindar dari hal-hal yang ditakutkan yang meskipun belum tentu apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Secara tidak disadari akan membuat orang-orang mudah marah, bahkan terkadang marahnya tidaklah masuk akal, karena pikiran terfokus pada ketakutan-ketakutan yang ada difikiran, seperti seseorang  yang sangat takut kekasihnya selingkuh, maka cenderung akan posesif dan mudah marah-marah dengan alasan yang begitu sepele.

Ketakutan –ketakutan didalam pikiran dapat membuat diri menjadi brutal, bahkan karena ketakutan, orang yang begitu lembah lembut dapat menjadi pembunuh berdarah dingin, seperti kasus Ryan yang menghabisinya nyawa orang dengan sadis, karena ketakutannya kekasihnya diambil orang ( kasus mutilasi), atau ketakutan-ketakutan pada suatu abad dimana pemburuan orang-orang yang dianggap sebagai penyihir dikawasan eropa , pemburuan orang-orang yang dianggap dukun santet di banyuwangi, bahkan guru ngaji yang tidak bersalah pun menjadi sasaran pada era sebelum Soeharto sebelum lengser di tahun 1998.

Propaganda ketakutan dalam politik

Itulah ketakutan, yang dapat membuat manusia dirasuki oleh iblis. Celakanya, dalam strategi politik, menggunakan senjata ketakutan pun masih kerap dilakukan. Menyebarkan rasa takut membuat orang dapat membenci secara membabi buta. Akal sehat akan dicutikan. Data-data tidak akan dapat dicerna, sebab otak sudah dipenuhi oleh rasa ketakutakan.

Dalam politik, ketakutan coba dihembuskan. Ketakutan akan menimbulkan rasa senasib sepenanggungan. Tetapi juga menimbulkan kebuasan serta hilangnya empati terhadap sesama manusia.

Contoh ketakutan yang bisa dihembuskan dalam pertempuran politik untuk meraih kekuasaan misalnya, isu dihembuskan, jika tokoh A menjadi pemimpin, maka negara akan dikuasai oleh asing. Atau jika si A menjadi pemimpin, maka akan bertindak otoriter pada kelompok-kelompok tertentu.  Dan celakanya, orang yang sudah diliputi ketakutan, akan mudah percaya isu-isu yang beredar dari pada data valid yang disajikan.

Ketakutan dalam negara demokrasi tidak perlu berlebihan, sebab banyak kontrol dalam sistem demokrasi. Selain media yang dapat melakukan kontrol terkait segala bentuk kebijakan, di era digital dan mudahnya menyebarkan serta mendapatkan informasi, masyarakat biasa pun dapat melakukan kontrol dengan mudah, melalui portal opini hingga tulisan di media sosial akan menjadi bentuk kontrol terhadap setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Dalam demokrasi, mengganti pemimpin dalam pesta priode pemilu begitu mudah. Lain hal nya jika negara berbentuk kerajaan, sampai modar pun tidak akan dapat mengganti raja, jadi harus mau terima nasib, dan sulit untuk berbuat banyak.

Menjadi seorang yang optimis

Ketakutan membatasi dan membentengi kinerja otak. Tindakkan produktif sangat sulit dilakukan dalam keadaan ketakutan. Memang benar kita harus membaca setiap kemungkinan, tetapi berfikir postif juga sangat diperlukan sebagai motivasi dan ketenangan dalam berfikir.

Coba lihat saja, mungkin anda pernah mengalami atau melihat seseorang yang ketakutan dan kecing di celana? Bukan hanya dalam berfikir, secara fisikpun orang yang ketakutan akan sulit bergerak.

Saya jadi teringat apa yang sering saya sampaikan kepada anak-anak sekaligus rekan kerja, bahwa sebaiknya kita tidak boleh terlalu percaya dan juga tidak boleh terlalu curiga, begitu juga dengan rasa takut, kita tidak boleh terlalu takut, tetapi tidak boleh juga terlalu percaya diri karena keberanian, sebab jika itu terjadi kesombonganlah yang akan muncul, dan pada akhirnya menyepelekan sesuatu pun dapat terjadi yang mengakibatkan peluang untuk kecolongan pun besar terjadi akibat menyepelekan sesuatu.

Mungkin begitu?

 

Gambar:rsconnett

 

Post Comment