Cinta itu Membuat Bahagia, Jika Salah akan Membawa Petaka
Telisik Telisik Kasus

Cinta itu Membuat Bahagia, Jika Salah akan Membawa Petaka

Cinta itu Membuat Bahagia, Jika Salah akan Membawa Petaka

Jatuh cinta berjuta rasanya, banyak lagu yang diciptakan berkaitan dengan cinta, hal ini membuktikan bahwa cinta itu begitu mewarnai dunia. Bukan hanya lagu, kisah-kisah hingga puisi pun lebih banyak tentang cinta, makin membuktikan bahwa cinta itu menjadi fokus dalam kehidupan manusia. Karena cinta, dunia menjadi damai, tentram dan penuh dengan canda serta tawa, itulah seharusnya hakikat dari sebuah cinta.

Namun kita juga seringkali menemui orang yang gila karena putus cinta, orang yang sampai bunuh diri karena ditinggalkan oleh kekasih hatinya, dan saya pun pernah mempunyai kenalan yang bunuh diri karena ditinggalkan sang objek cinta.

Karena mencintai, orang rela melakukan segala hal, dari hal yang baik hingga hal yang buruk. Tetapi apakah itu cinta yang sebenarnya? Saya rasa itu bukanlah cinta yang sebenarnya, karena cinta yang sebenarnya adalah cintanya bukan objek yang dicintainya.

Maksudnya cinta adalah cinta itu sendiri bukan objek dari apa yang dicintai  , semestinya cinta itu baik adanya, cinta itu baik secara universal, oleh sebab itu cinta bisa membuat bahagia dan damai seluruh alam semesta. Tetapi jik cinta sudah berfokus pada sebuah objek, itulah yang membuat segalanya menjadi runyam dan kacau balau.

Misalnya lelaki boleh mencintai seorang wanita sebagai objek cinta, tetapi ketika wanita itu pergi meninggalkanya, gak perlu patah hati hingga bunuh diri, biarkan saja, karena cinta itu tak akan hilang dan bisa diberikan pada yang lain yang lebih baik dari si objek pertama. Meskipun begitu, kita pun harus ingat kalau cinta memang berawal dari perasaan tetapi selanjutnya dibutuhkan keputusan untuk berkomitmen bersama cinta itu sendiri. Mungkin bisa membaca tulisan saya yang berjudul ‘Memang Cinta Berawal dari Perasaan Namun Keputusan itu yang Paling Penting’.

Cinta terhadap objek yang salah juga dapat berbahaya, karena mencintai sebuah paham radikalisme, maka atas nama cinta terhadap apa yang diyakininya bisa membutakan mata kemanusiaan serta rela mengorbankan nyawa sendiri untuk menjadi teroris, serta menghabisi orang-orang yang tak bersalah.

Fenomena politik saat ini pun membuktikan cinta yang salah kaprah terkait cinta terhadap pilihan politik yang berlebihan, membabi buta benci terhadap sesamanya, bahkan ada yang berduel hingga tewas. Karena cinta buta terhadap capres dan cawapresnya, akal sehatpun dibuang di tong sampah serta mengagunggkannya bak seorang Nabi yang layak diikuti tanpa dikritisi.

Mungkin begitu?

 

Gambar :pixabay

Post Comment